Copyright 2018 - Custom text here

FAQ DIFTERI DAN VAKSIN DIFTERI ANAK DAN DEWASA

FAQ DIFTERI DAN VAKSIN DIFTERI

Q: Apakah yang dimaksud dengan difteri dan mengapa penyakit ini sangat ditakuti?

A: Difteri adalah penyakit yang disebabkan oleh bakteri Corynebacterium diphtheriae strain toksin. Gejala awal penyakit difteri adalah demam dengan suhu kurang lebih 38 dercel, disertai nyeri waktu menelan dan leher membengkak seperti leher sapi (bullneck) disebabkan karena pembengkakan kelenjar leher. Gejala lanjutan dari penyakit difteri adalah sesak nafas disertai bunyi (stridor). Pada pemeriksaan ditemukan selaput putih pada tenggorokan yang mudah berdarah.

Penyakit ini tergolong berbahaya karena dapat menimbulkan fatalitas / kematian. Bakteri difteri dapat menyebabkan kelumpuhan otot jantung. Angka kematian rata-rata 5 –10 % pada anak usia kurang  5 tahun dan pada dewasa (diatas 40 tahun) angka kematian dapat meningkat menjadi 20 %. (Sumber : CDC Atlanta).

 

Gambar 1. Gejala Khas Difteri: pseudomembran putih yang mudah berdarah

Cara penularan penyakit ini hampir sama mudahnya dengan penyakit influenza biasa, yaitu melalui droplet (air liur saat penderita batuk/bersin) dan kontak langsung dengan penderita atau karrier. Difteri juga dapat ditularkan secara tidak langsung melalui barang-barang yang terkontaminasi.

 

Gambar 2. Kenali Difteri dan cara pencegahannya

Info lanjut mengenai penyakit difteri dan KLB difteri dapat dilihat di tautan ini:

http://www.bbc.com/indonesia/majalah-42215042

 

Gambar 3. Gambaran kasus difteri di Kabupaten Banten

 

 

Gambar 4. Mapping kasus difteri di Indonesia

Q: Apa upaya yang dapat dilakukan untuk mencegah penyakit difteri?

A: Menjaga kebersihan diri dan lingkungan, rajin mencuci tangan, dan vaksinasi difteri.

 

Q: Apakah yang dimaksud dengan program ORI untuk anak 1-19 tahun?

A: ORI (Outbreak Response Immunization) adalah program imunisasi yang diselenggarakan pemerintah sebagai respons atas terjadinya KLB (Kejadian Luar Biasa) dari suatu penyakit, dalam hal ini adalah difteri.

 

ORI di daerah KLB diberikan tanpa memandang status imunisasi sebelumnya, tujuannya adalah terciptanya kekebalan komunitas. Hal ini bertujuan untuk memutuskan penularan, menurunkan jumlah kasus difteri dan mencegah agar kasus difteri tidak semakin meluas.

 

Gambar 5. Kekebalan Komunitas

Info lengkap mengenai kekebalan komunitas dapat dilihat di tautan ini: http://www.depkes.go.id/pdf.php?id=17042600003

 

Program ORI dilaksanakan dalam 3 tahap:

  1. ORI 0 (TAHAP 1)
  2. ORI 1(TAHAP 2): minimal 28 HARI SETELAH TAHAP 1.
  3. ORI 2 (TAHAP 3): minimal 6 BULAN  SETELAH TAHAP 2.

Tiga sasaran usia program ORI:

  1. 1- < 5 TAHUN à menggunakan vaksin Pentabio (DPT Combo).
  2. 5- < 7 TAHUN à menggunakan vaksin DT.
  3. 7 – 19 TAHUN à menggunakan vaksin Td.

Jadi jenis vaksin tidak berdasarkan tahapan ORI, melainkan berdasarkan usia anak saat divaksin. Sangat penting untuk mencatat tanggal vaksinasi anak Anda agar anak dapat divaksin sesuai jadwal seharusnya.

 

Gambar 6. Vaksin difteri untuk program ORI

Q: Apabila anak saya sudah diimunisasi lengkap saat kecil sesuai  jadwal apakah boleh mengikuti ORI?

A: Boleh. Asal jarak penyuntikan sebelumnya diinfokan kepada petugas. Pada program ORI ini, pemerintah mengulang dari awal vaksinasi difteri pada anak-anak di wilayah outbreak difteri untuk menjamin terciptanya kekebalan komunitas. kekebalan komunitas dapat tercapai jika target imunisasi mencapai 80%.  Sehingga imunisasi ORI ini diberikan tanpa memandang status imunisasi sebelumnya.

 

 

 

Q: Bagaimana dengan orang dewasa? Apakah perlu divaksin difteri juga? Dan dimana mendapatkannya? Bagaimana jadwal penyuntikannya?

 

A: Penyakit difteri dapat mengenai siapa saja, termasuk orang dewasa, di beberapa tempat termasuk di Kabupaten Tangerang, sudah terdapat kasus fatalitas (kematian) yang terjadi pada orang dewasa. Karena itu vaksin difteri juga dianjurkan untuk diberikan pada orang dewasa dengan jadwal penyuntikan sama seperti pada anak-anak. Vaksin yang digunakan adalah vaksin BioTd (single use)  atau Adacel atau Boostrix. Saat ini penggunaan vaksin Td (multiple dose) dikhususkan untuk memenuhi persediaan vaksin difteri untuk program ORI anak usia 7-19 tahun di sekolah dan puskesmas dan tidak tersedia untuk dewasa.

 

Untuk orang dewasa yang status imunisasi saat kecil sudah lengkap dan selalu melakukan imunisasi difteri ulangan setiap 10 tahun, imunisasi difteri cukup dilakukan 1x dan kemudian dapat diulang 10 tahun kemudian. Setelah 3x penyuntikan maka kekebalan akan bertahan selama 10 tahun.

 

Untuk orang dewasa yang status imunisasinya tidak lengkap atau lupa, imunisasi harus dilakukan 3x untuk menjamin kekebalan dapat terbentuk hingga 10 tahun kemudian. Imunisasi dewasa dapat dilakukan di fasilitas-fasilitas kesehatan terdekat.

 

Jadwal imunisasi anak dan dewasa lebih lengkapnya dapat dilihat pada tabel di bawah ini.

 

 

Gambar 7. Jadwal imunisasi anak

Gambar 8. Jadwal imunisasi dewasa

 

 

 

 

 

Q: Ada beberapa jenis vaksin anak dan dewasa yang beredar di pasaran. Apakah bedanya?

A: Ada berbagai merk vaksin difteri di pasaran. Terbagi menjadi vaksin import dan lokal.

Jenis2 vaksin tersebut antara lain:

 a. Vaksin buatan pabrik milik pemerintah (Biofarma):

  1. Pentabio (DPT Combo): proteksi terhadap penyakit difteri, pertusis, tetanus, hepatitis B dan Hemofilus influenza tipe B (HiB).  Diberikan pada anak usia di bawah 5 tahun.
  2. DT: booster imunisasi untuk penyakit difteri dan tetanus, diberikan pada anak usia 5 sampai di bawah 7 tahun.
  3. Td / Bio Td: booster imunisasi penyakit difteri dan tetanus. Diberikan untuk anak 7 tahun ke atas hingga dewasa dan lansia.

Vaksin ini yang digunakan dalam program ORI di daerah-daerah KLB difteri. Vaksin ini keluaran pabrik PT. Biofarma di Banding yang sudah berdiri sejak tahun 1890 dan banyak mendapat penghargaan baik dari dalam maupun luar negri.

Info lengkap tentang Biofarma dapat dilihat di sini:

http://www.biofarma.co.id/

 

 b. Vaksin keluaran PT. Sanofi Pasteur (imported):

1. Pediacel : Proteksi terhadap difteri, pertusis, tetanus, hemofillus influenza B dan polio. Diberikan untuk anak berusia 2 bulan s/d 7 tahun.

2. Hexaxim: Proteksi terhadap difteria, tetanus, pertusis, hepatitis B, poliomyelitis dan Haemophilus influenzae tipe b. Indikasinya adalh untuk bayi berusia 6 minggu hingga 24 bulan.

3.Tripacel: proteksi terhadap difteri, pertusis dan tetanus. Diberikan untuk anak usia di atas usia 2 bulan sampai 7 tahun.

4. Adacel: Vaksin ini umumnya diberikan pada dosis ke-5 vaksin DPT pada anak usia 4-6 tahun, dan booster DPT selanjutnya hingga dewasa berusia 64 tahun.

 

c.  Vaksin keluaran PT. GSK (imported):

1.  Infanrix: proteksi terhadap penyakit difteri, pertusis, dan tetanus (DPT) . Indikasi untuk anak usia 2 bulan – 7 tahun.

2. Infanrix IPV-HiB: proteksi terhadap penyakit DPT, polio dan HiB.

3.  Infanrix Hexa: proteksi terhadap diphtheria, tetanus, pertussis, hepatitis B, poliomyelitis and Haemophilus influenzae type b, diberikan untuk anak usia di bawah 18 bulan.

4.  Boostrix: booster imunisasi penyakit difteri , pertusis dan tetanus. Diberikan untuk anak di atas 4 tahun hingga dewasa dan lansia.

 

Saya tidak akan membahas lebih lanjut mengenai vaksin impor di atas karena fokus kita adalah untuk mencegah penyakit difteri dan pada program ORI yang digunakan adalah vaksin keluaran PT. Biofarma. Selain itu ketersediaan vaksin-vaksin impor saat ini agak sulit dan terbatas.

 

 

Q: Apakah proses ORI di sekolah aman? Apakah jarum yang digunakan steril?

A: Sebelum melakukan ORI, pihak Puskesmas melakukan proses sosialisasi ke sekolah-sekolah agar koordinasi antara pihak sekolah dan puskesmas untuk persiapan ORI dapat berjalan lancar, tepat sasaran dan tidak terjadi KIPI (kejadian ikutan pasca imunisasi = efek samping timbul karena imunisasi).

Jarum yang digunakan adalah jarum soloshot yang hanya dapat dipakai 1x dan tidak dapat digunakan kembali sehingga dapat dipastikan 1 jarum hanya dapat dipakai untuk 1x suntik dan tepat dosis (0,5ml). Sebelum pelaksanaan semua petugas sudah mendapat arahan dan pelatihan sesuai prosedur agar proses ORI dapat berjalan baik, lancar dan aman.

 

Gambar 9. Contoh jarum soloshot

 

Q: Anak saya sudah mengikuti BIAS (Bulan Imunisasi Anak Sekolah untuk vaksin DT/TD pada bulan November. Apakah tetap harus mengikuti ORI sebanyak 3 putaran?

A: Untuk anak sekolah yang mengikuti program BIAS DT/TD di bulan November maka tinggal melanjutkan ORI tahap 1 (periode 2) dan ORI 2 (periode 3). Sewkolah biasanya sudah memiliki catatan untuk hal ini.

 

Q: Kondisi apa sajakah yang tidak boleh mendapat vaksin difteri (kontraindikasi pemberian vaksin difteri)?

A: Riwayat demam kurang dari 2x24 jam, batuk pilek berat, sakit tenggorokan, diare merupakan

kontraindikasi relatif vaksin difteri sehingga pemberian vaksin umumnya perlu ditunda untuk kondisi tersebut di atas. Informasikan kondisi Anda/anak Anda pada petugas atau wali kelas agar anak diperiksa lebih lengkap terlebih dahulu sebelum divaksin.

 

Penyakit kronis tertentu (penyakit ginjal, autoimun, jantung, keganasan dll), riwayat alergi vaksin, riwayat penggunaan obat imunosupresif perlu mendapat perhatian khusus dan memerlukan konsultasi dan persetujuan lebih lanjut dari dokter yang merawat sebelum pemberian vaksin.

 

Untuk anak dengan riwayat kejang demam dapat divaksin asal kondisi anak sedang fit. Selalu siapkan termometer di rumah untuk memantau suhu anak dan berikan obat demam apabila suhu anak mencapai 37,5 dercel atau lebih. Siapkan obat demam dan obat kejang bila diperlukan.

 

Q: Apakah efek samping dari vaksin difteri yang mungkin timbul?

A: Pada umumnya reaksi pasca vaksin yang terjadi adalah pegal dan kadang disertai lebam atau bengkak bekas suntikan. Hal ini akan mereda dengan sendirinya sekitar 3 hari. Untuk membantu rasa tidak  nyaman bekas suntikan dapat dikompres dingin 24 jam pertama, kompres hangat selanjutnya. Bila perlu beri obat pereda nyeri seperti parasetamol/asam mefenamat/ibuprofen.

 

Demam dapat terjadi terutama pada anak yang menerima suntikan pentabio atau DT. Siapkan obat pereda demam seperti parasetamol (sanmol, tempra, panadol) atau ibuprofen (proris) di rumah dan berikan bila anak rewel karena tidak nyaman atau demam mencapai suhu 38 dercel ke atas.

 

Reaksi alergi vaksin dapat terjadi berupa gatal bekas tempat suntikan, hingga bentol di seluruh tubuh. Reaksi berat seperti sesak nafas sangat jarang tetapi dapat terjadi dan biasanya terjadi dalam waktu singkat setelah suntikan diberikan. Umumnya ini dapat diatasi oleh petugas yang selalu membawa set anafilaktik atau perlengkapan darurat di setiap lokasi ORI. Observasi lebih lanjut biasanya akan dilakukan di RS terdekat.

Bila terjadi reaksi alergi yang dicurigai karena vaksin harap dilaporkan ke sekolah atau petugas imunisasi agar menjadi kewaspadaaan sendiri jadwal untuk vaksin berikutnya dan dilaporkan sebagai KIPI.

Info lanjutan mengenai KIPI: http://infoimunisasi.com/vaksinasi/apa-itu-kipi/

 

 

Efek dari vaksin difteri jauh lebih ringan daripada resiko penyakit itu sendiri, karena itu segera lindungi Anda dan keluarga dengan langkah yang tepat. Vaksinasi orang-orang terdekat Anda agar tidak terkena tertular penyakit yang berbahaya ini.

Kenali gejalanya dan segera bawa pasien ke fasilitas kesehatan terdekat bila curiga menderita difteri.

More info or appointment for consultation pls contact us: 081315839767

 

by: dr. Silvia Hartono, MKK

Fairytale Aesthetic and Wellness Clinic

 

 

 

Search

f t g m